coffeesitmun
Jumat, 19 Februari 2016
Sabtu, 13 Juni 2015
Rabu, 04 Desember 2013
Bersihkan negara dari korupsi
Assalamualaikum wr.wb
Saya senang bisa mengikuti lomba ini, karena bisa menguraikan pendapat saya tentang masalah-masalah di Indonesia yaitu Korupsi. Tentu kita tahu perbuatan ini sangat tercela, karena telah mengambil hak-hak orang lain dan sepantasnya dihukum seberat-beratnya. Tetapi kenyataannya tidak semua dijalankan di Indonesia. Pasal dan undang-undang yang dibuat seperti hiasan dan formalitas saja, bahkan sumpah mereka diatas Al-quran sebelum mereka menjabat, mereka abaikan dan lupakan. Tanggung jawab yang dipercayakan rakyat, mereka khianati.
Bisa kita amati hukuman korupsi di luar Indonesia, seperti di Cina. Koruptor disana akan dipenggal kepalanya bila tertangkap tangan melakukan korupsi. Atau di Arab saudi, koruptor juga akan dipotong tangannya bila uang yang bukan miliknya malah diambil untuk kepentingan pribadi. Dan di Indonesia sendiri, juga dipotong, tetapi bukan dipotong tangan atau kepalanya, melainkan dipotong masa tahanannya atau melepaskan mereka lebih cepat dan tidak sesuai dengan peraturan yang dibuat. Sungguh ironis!
Padahal sudah dijelaskan di Al-quran :
Dan janganlah kamu makan harta sesama kamu dengan cara yang batil”. (al-Baqarah 188, dan An-Nisa`: 29).
namun ayat tersebut tidak dihiraukan oleh para koruptor. mereka bukannya tidak sengaja melakukannya, saya yakin mereka dalam keadaan sehat dan sadar. Apa mungkin mereka dihipnotis saat melakukannya? tidak mungkin.
Lemahnya keyakinan agama adalah merupakan salah satu faktor penyebab seseorang melakukan korupsi. Kita semua mengetahui bahwa penduduk Indonesia 100 adalah beragama dan 88 di antaranya adalah penganut agama Islam atau orang muslim. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pelaku-pelaku korupsi itu adalah orang yang memiliki dan meyakini agama, dan sebahagian besar di antaranya adalah penganut agama Islam. Atas dasar itu dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya pelaku tindak pidana korupsi itu adalah penganut agama Islam. Padahal sesungguhnya ajaran agama Islam itu dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar termasuk di dalamnya mencegah perbuatan korupsi. Yang jadi masalah adalah ada beberapa orang tertentu yang rajin melaksanakan ibadah sesuai ajaran agamanya, namun peraktek korupsinya tetap juga jalan. Hal ini disebabkan oleh karena pelaksanaan ajaran agama itu tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sekaligus tidak mendalami makna yang terkandung dalam ibadah itu. Akibatnya ibadah yang dilaksanakan baru sebatas ibadah ritual ceremonial, belum menjalankan ibadah sebagai ibadah ritual dan aktual.
2.Pemahaman Keagamaan yang keliru
Pemahaman keagamaan yang keliru yang dimaksudkan di sini adalah adanya satu pemahaman bahwa setiap berbuat satu kebaikan akan diberikan pahalanya tujuh ratus kali lipat pada satu pihak, sebagaimana tercermin dalam Firman Allah SWT :
Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di Jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.
Dan adanya pemahaman bahwa berbuat satu kejahatan akan diberikan satu ganjaran / balasan pada pihak yang lain. Kedua pemahaman ini digabungkan menjadi satu dalam hal kejahatan. Akibatnya seseorang berpikir bahwa kalau dia melakukan korupsi Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) akan diberikan dosa sebanyak seratus juta dosa. Untuk itu maka dia berpikir alangkah baiknya uang yang dikorupsi itu disedekahkan sebanyak Rp. 1.000.000,00 (Satu juta rupiah) dan akan mendapatkan pahala sebanyak 700.000.000,00 kebaikan. Dan masih untung sebanyak 600.000.000,00 kebaikan. Padahal dia tidak sadar bahwa uang yang disedekahkan itu harus bersumber dari yang halal, bukan dari yang haram sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
Artinya : Tidak diterima sholat seseorang kecuali dalam keadaan suci dan tidak diterima sedekah seseorang yang bersumber dari penipuan.
Hal ini menunjukkan bahwa adanya pemahaman yang keliru tentang ganjaran pahala dan dosa yang dipahami oleh seseorang, akibatnya dia rajin korupsi dan rajin pula memberikan infaq/shodaqah.
3.Adanya Kesempatan dan Sistem yang Rapuh
Seseorang melakukan tindak pidana korupsi salah satunya adalah disebabkan adanya kesempatan dan peluang serta didukung oleh sistem yang sangat kondusif untuk berbuat korupsi. Adanya kesempatan dan peluang itu antara lain adalah dalam bentuk terbukanya kesempatan dan peluang untuk berbuat korupsi karena tidak adanya pengawasan melekat dari atasannya dan terkadang justru atasannya mengharuskan seseorang untuk berbuat korupsi. Atau bisa dalam bentuk sistem penganggaran yang memang mengharuskan seseorang berbuat korupsi seperti diperlukannya uang pelicin untuk menggolkan anggaran kegiatan, atau dalam bentuk lain diperlukannya uang setoran kepada atasan di akhir pelaksanaan kegiatan.
4.Mentalitas yang rapuh
Mentalitas ataupun sikap mental yang rapuh adalah disebabkan pengetahuan dan pengamalan agama yang kurang, disamping penyebab-penyebab lainnya. Apabila pengetahuan dan pengamalan agama seseorang baik, maka dapat dipastikan bahwa sikap mental orang tersebut akan baik, namun demikian tidak semua yang bermental baik berarti memiliki pengetahuan dan pengamalan agama yang baik, sebab masih banyak penyebab-penyebab lainnya yang menyebabkan seseorang bermental baik. Perlu diketahui bahwa faktor mentalitas ini adalah merupakan faktor yang paling dominan yang menyebabkan terjadinya korupsi, sebab dalam kenyataannya yang melakukan peraktek korupsi itu biasanya yang paling tinggi jabatannya, disamping yang mempunyai peluang dan kesempatan untuk melakukannya.
5.Faktor Ekonomi / Gaji Kecil
Faktor ekonomi / gaji kecil ditengarai adalah salah satu faktor penyebab orang melakukan korupsi, sebab bagaimana mungkin seseorang tidak melakukan korupsi, sementara gajinya relatif kecil, kebutuhannya banyak, dan dia mengelola uang. Sebagaimana diketahui bahwa gaji Pegawai Negeri Sipil di Indonesia adalah merupakan salah satu gaji terendah di dunia dan jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia, akibatnya untuk mencari tambahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan anak-anak sekolah, maka dicarilah jalan pintas dengan mengambil uang negara secara tidak sah (melawan hukum). Hal ini sepintas kilas dapat dibenarkan, tetapi karena yang melakukannya hampir semua orang yang mempunyai kesempatan dan peluang, maka keuangan negara habis dikorupsi orang-orang tertentu untuk selanjutnya dinikmati oleh orang-orang tertentu pula.
6.Faktor Budaya
Adalah sebuah kebiasaan bagi kita orang Indonesia bahwa setiap seseorang menjadi pejabat tinggi dalam sebuah pemerintahan, maka yang bersangkutan akan menjadi sandaran dan tempat bergantung bagi keluarganya, akibatnya dia diharuskan melakukan perbuatan korupsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya tersebut, apalagi permintaan akan kebutuhan itu datang dari orang yang sangat berpengaruh bagi dirinya seperti mamak umpamanya. Selain daripada itu dalam budaya kita akan dianggap bodoh seseorang manakala dia tidak mempunyai apa-apa di luar penghasilannya, sementara dia menduduki suatu jabatan penting, akibatnya dipaksa untuk melakukan korupsi.
7.Faktor Kebiasaan dan Kebersamaan
Peraktek korupsi sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi yang mempunyai peluang dan kesempatan melakukannya, ditambah lagi peraktek korupsi ini telah dilakukan oleh banyak orang, dan bahkan dilakukan secara berjamaah. Akibatnya peraktek ini menjadi kebiasaan yang tak perlu diusik dan diutak-atik. Akhirnya terjadilah pembiasaan terhadap yang salah, padahal seharusnya kita membiasakan yang benar dan bukan membenarkan yang biasa apalagi perbuatan yang salah itu merugikan dan menjadi wabah penyakit serius bagi bangsa Indonesia seperti korupsi. Kebiasaan ini harus dicegah dan bila perlu dibasmi sampai ke akar-akarnya, sehingga hilang sama sekali dari bumi Indonesia.
8.Penegakan Hukum yang Lemah
Orang tidak kapok melakukan korupsi secara berulang-ulang, salah satu penyebabnya adalah karena tidak adanya sanksi hukum yang jelas yang diberikan kepada pelaku korupsi, padahal hukuman terhadap mereka telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, tetapi karena penegakan hukumnya lemah, ditambah dengan aparat penegak hukumnya juga pelaku korupsi, maka pelaku korupsi tadi tidak merasa jera dengan perbuatannya dan bahkan semakin menjadi-jadi, akibatnya menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihindari apalagi untuk dihentikan.
9.Hilangnya Rasa Bersalah
Seorang koruptor tidak merasa bersalah atas perilakunya memakan uang negara, sebab dia merasa bahwa korupsi tidak sama dengan mencuri. Baginya korupsi berbeda dengan mencuri. Orang seperti ini sering berdalih, kalau yang dirugikan itu negara maka negara tidak bisa bersedih apalagi menangis, apalagi saya ini termasuk bahagian dari negara. Kalau yang dicuri uang rakyat, maka rakyat yang mana ? sebab saya sendiri juga adalah rakyat, hal itu berarti bahwa saya juga mencuri uang saya sendiri. Akibatnya para pelaku korupsi itu tidak pernah merasa bersalah atas perbuatannya, padahal kalaulah ia merasa bersalah atas perbuatannya maka besar kemungkinan ia akan mengembalikan uang yang dikorupsinya itu atau minimal dia tidak akan mengulangi lagi perbuatnnya di kemudian hari. Perasaan hilangnya rasa bersalah atau tidak punya rasa malu ini, harus ditumbuh kembangkan lagi, sehingga menjadi bahagian dari hidup ataupun menjadi budaya bangsa. Namun inilah yang sudah hilang dari diri bangsa ini.
10.Hilangnya Nilai Kejujuran
Nilai kejujuran adalah merupakan satu asset yang sangat berharga bagi seseorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sebab kejujuran akan mampu menjadi benteng bagi seseorang untuk menghindari perbuatan-perbuatan munkar seperti perbuatan korupsi ini. Hanya saja memang harus diakui bahwa nilai-nilai kejujuran telah hilang dari pelaku-pelaku korupsi itu. Oleh karena itulah maka sejak kecil dalam rumah tangga sudah harus ditanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak-anak sesuai dengan hadis Nabi, Katakanlah yang benar itu walau pahit sekalipun.
11.Sikap Tamak dan Serakah
Sikap tamak dan serakah adalah merupakan dua sikap yang sering menjerumuskan ummat manusia ke jurang kehinaan dan keghancuran sebab kedua sikap ini mengantar manusia kepada sikap tidak pernah merasa puas dan tidak pernah merasa cukup sekalipun harta yang telah dimilikinya sudah melimpah ruah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Quran :
Artinya : Bagi orang-orang yang memenuhi seruan TuhanNya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi, dan ditambah sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
12.Ingin Cepat Kaya, Tanpa Usaha dan Kerja Keras
Korupsi cepat tumbuh dan berkembang biak dengan pesat adalah disebabkan sikap manusia yang ingin cepat mendapatkan kekayaan, tanpa melalui usaha dan kerja keras, akibatnya korupsi menjadi pilihan utama untuk dilaksanakan, sebab pekerjaan korupsi tidak memerlukan kerja keras dan tidak memerlukan waktu lama. Dalam sekejap seseorang bisa cepat kaya dan mendapat harta yang berlimpah ruah, hanya dengan melakukan korupsi. Korupsi nampaknya menjadi jalan pintas untuk mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah, padahal dalam konsep agama Islam, untuk mendapatkan harta kekayaan haruslah melalui kerja keras dan halal.
13.Terjerat Sifat Materialistik, Kapitalistik dan Hedonistik
Materialistik, Kapitalistik dan hedonistik adalah tiga sifat yang siap siaga mengantarkan umat manusia untuk menghalalkan segala macam cara agar mendapatkan harta yang berlimpah. Harta yang berlimpah inipun tidak pernah merasa puasa dan cukup, selalu kehausan dan kekurangan setiap saat. Sudah punya mobil satu maka ingin punya mobil dua, sudah punya mobil dua maka iapun berhasrat untuk memiliki tiga dan seterusnya, akibatnya apapun dilakukan untuk mendapatkannya termasuk di dalamnya dengan melakukan korupsi yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat dan negara. Oleh karena itulah maka Nabi memperingatkan kepada yang haus akan harta melalui sabda beliau :
Artinya : Rasulullah SAW bersabda :Celakah hamba dinar dan hamba dirham, hamba permadani, dan hamba baju. Apabila ia diberi maka ia puas dan apabila ia tidak diberi maka iapun menggerutu kesal.
Saya senang bisa mengikuti lomba ini, karena bisa menguraikan pendapat saya tentang masalah-masalah di Indonesia yaitu Korupsi. Tentu kita tahu perbuatan ini sangat tercela, karena telah mengambil hak-hak orang lain dan sepantasnya dihukum seberat-beratnya. Tetapi kenyataannya tidak semua dijalankan di Indonesia. Pasal dan undang-undang yang dibuat seperti hiasan dan formalitas saja, bahkan sumpah mereka diatas Al-quran sebelum mereka menjabat, mereka abaikan dan lupakan. Tanggung jawab yang dipercayakan rakyat, mereka khianati.
Bisa kita amati hukuman korupsi di luar Indonesia, seperti di Cina. Koruptor disana akan dipenggal kepalanya bila tertangkap tangan melakukan korupsi. Atau di Arab saudi, koruptor juga akan dipotong tangannya bila uang yang bukan miliknya malah diambil untuk kepentingan pribadi. Dan di Indonesia sendiri, juga dipotong, tetapi bukan dipotong tangan atau kepalanya, melainkan dipotong masa tahanannya atau melepaskan mereka lebih cepat dan tidak sesuai dengan peraturan yang dibuat. Sungguh ironis!
Padahal sudah dijelaskan di Al-quran :
Dan janganlah kamu makan harta sesama kamu dengan cara yang batil”. (al-Baqarah 188, dan An-Nisa`: 29).
dan dalam QS Al Maidah:42, disebutkan bahwa memakan harta korupsi sama dengan memakan barang haram.
namun ayat tersebut tidak dihiraukan oleh para koruptor. mereka bukannya tidak sengaja melakukannya, saya yakin mereka dalam keadaan sehat dan sadar. Apa mungkin mereka dihipnotis saat melakukannya? tidak mungkin.
Untuk lebih lanjut dalam masalah ini dapat diuraikan
penyebab-penyebab terjadinya peraktek korupsi, antara lain adalah
sebagai berikut :
1.Lemahnya Keyakinan AgamaLemahnya keyakinan agama adalah merupakan salah satu faktor penyebab seseorang melakukan korupsi. Kita semua mengetahui bahwa penduduk Indonesia 100 adalah beragama dan 88 di antaranya adalah penganut agama Islam atau orang muslim. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pelaku-pelaku korupsi itu adalah orang yang memiliki dan meyakini agama, dan sebahagian besar di antaranya adalah penganut agama Islam. Atas dasar itu dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya pelaku tindak pidana korupsi itu adalah penganut agama Islam. Padahal sesungguhnya ajaran agama Islam itu dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar termasuk di dalamnya mencegah perbuatan korupsi. Yang jadi masalah adalah ada beberapa orang tertentu yang rajin melaksanakan ibadah sesuai ajaran agamanya, namun peraktek korupsinya tetap juga jalan. Hal ini disebabkan oleh karena pelaksanaan ajaran agama itu tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sekaligus tidak mendalami makna yang terkandung dalam ibadah itu. Akibatnya ibadah yang dilaksanakan baru sebatas ibadah ritual ceremonial, belum menjalankan ibadah sebagai ibadah ritual dan aktual.
2.Pemahaman Keagamaan yang keliru
Pemahaman keagamaan yang keliru yang dimaksudkan di sini adalah adanya satu pemahaman bahwa setiap berbuat satu kebaikan akan diberikan pahalanya tujuh ratus kali lipat pada satu pihak, sebagaimana tercermin dalam Firman Allah SWT :
Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di Jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.
Dan adanya pemahaman bahwa berbuat satu kejahatan akan diberikan satu ganjaran / balasan pada pihak yang lain. Kedua pemahaman ini digabungkan menjadi satu dalam hal kejahatan. Akibatnya seseorang berpikir bahwa kalau dia melakukan korupsi Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) akan diberikan dosa sebanyak seratus juta dosa. Untuk itu maka dia berpikir alangkah baiknya uang yang dikorupsi itu disedekahkan sebanyak Rp. 1.000.000,00 (Satu juta rupiah) dan akan mendapatkan pahala sebanyak 700.000.000,00 kebaikan. Dan masih untung sebanyak 600.000.000,00 kebaikan. Padahal dia tidak sadar bahwa uang yang disedekahkan itu harus bersumber dari yang halal, bukan dari yang haram sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
Artinya : Tidak diterima sholat seseorang kecuali dalam keadaan suci dan tidak diterima sedekah seseorang yang bersumber dari penipuan.
Hal ini menunjukkan bahwa adanya pemahaman yang keliru tentang ganjaran pahala dan dosa yang dipahami oleh seseorang, akibatnya dia rajin korupsi dan rajin pula memberikan infaq/shodaqah.
3.Adanya Kesempatan dan Sistem yang Rapuh
Seseorang melakukan tindak pidana korupsi salah satunya adalah disebabkan adanya kesempatan dan peluang serta didukung oleh sistem yang sangat kondusif untuk berbuat korupsi. Adanya kesempatan dan peluang itu antara lain adalah dalam bentuk terbukanya kesempatan dan peluang untuk berbuat korupsi karena tidak adanya pengawasan melekat dari atasannya dan terkadang justru atasannya mengharuskan seseorang untuk berbuat korupsi. Atau bisa dalam bentuk sistem penganggaran yang memang mengharuskan seseorang berbuat korupsi seperti diperlukannya uang pelicin untuk menggolkan anggaran kegiatan, atau dalam bentuk lain diperlukannya uang setoran kepada atasan di akhir pelaksanaan kegiatan.
4.Mentalitas yang rapuh
Mentalitas ataupun sikap mental yang rapuh adalah disebabkan pengetahuan dan pengamalan agama yang kurang, disamping penyebab-penyebab lainnya. Apabila pengetahuan dan pengamalan agama seseorang baik, maka dapat dipastikan bahwa sikap mental orang tersebut akan baik, namun demikian tidak semua yang bermental baik berarti memiliki pengetahuan dan pengamalan agama yang baik, sebab masih banyak penyebab-penyebab lainnya yang menyebabkan seseorang bermental baik. Perlu diketahui bahwa faktor mentalitas ini adalah merupakan faktor yang paling dominan yang menyebabkan terjadinya korupsi, sebab dalam kenyataannya yang melakukan peraktek korupsi itu biasanya yang paling tinggi jabatannya, disamping yang mempunyai peluang dan kesempatan untuk melakukannya.
5.Faktor Ekonomi / Gaji Kecil
Faktor ekonomi / gaji kecil ditengarai adalah salah satu faktor penyebab orang melakukan korupsi, sebab bagaimana mungkin seseorang tidak melakukan korupsi, sementara gajinya relatif kecil, kebutuhannya banyak, dan dia mengelola uang. Sebagaimana diketahui bahwa gaji Pegawai Negeri Sipil di Indonesia adalah merupakan salah satu gaji terendah di dunia dan jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia, akibatnya untuk mencari tambahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan anak-anak sekolah, maka dicarilah jalan pintas dengan mengambil uang negara secara tidak sah (melawan hukum). Hal ini sepintas kilas dapat dibenarkan, tetapi karena yang melakukannya hampir semua orang yang mempunyai kesempatan dan peluang, maka keuangan negara habis dikorupsi orang-orang tertentu untuk selanjutnya dinikmati oleh orang-orang tertentu pula.
6.Faktor Budaya
Adalah sebuah kebiasaan bagi kita orang Indonesia bahwa setiap seseorang menjadi pejabat tinggi dalam sebuah pemerintahan, maka yang bersangkutan akan menjadi sandaran dan tempat bergantung bagi keluarganya, akibatnya dia diharuskan melakukan perbuatan korupsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya tersebut, apalagi permintaan akan kebutuhan itu datang dari orang yang sangat berpengaruh bagi dirinya seperti mamak umpamanya. Selain daripada itu dalam budaya kita akan dianggap bodoh seseorang manakala dia tidak mempunyai apa-apa di luar penghasilannya, sementara dia menduduki suatu jabatan penting, akibatnya dipaksa untuk melakukan korupsi.
7.Faktor Kebiasaan dan Kebersamaan
Peraktek korupsi sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi yang mempunyai peluang dan kesempatan melakukannya, ditambah lagi peraktek korupsi ini telah dilakukan oleh banyak orang, dan bahkan dilakukan secara berjamaah. Akibatnya peraktek ini menjadi kebiasaan yang tak perlu diusik dan diutak-atik. Akhirnya terjadilah pembiasaan terhadap yang salah, padahal seharusnya kita membiasakan yang benar dan bukan membenarkan yang biasa apalagi perbuatan yang salah itu merugikan dan menjadi wabah penyakit serius bagi bangsa Indonesia seperti korupsi. Kebiasaan ini harus dicegah dan bila perlu dibasmi sampai ke akar-akarnya, sehingga hilang sama sekali dari bumi Indonesia.
8.Penegakan Hukum yang Lemah
Orang tidak kapok melakukan korupsi secara berulang-ulang, salah satu penyebabnya adalah karena tidak adanya sanksi hukum yang jelas yang diberikan kepada pelaku korupsi, padahal hukuman terhadap mereka telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, tetapi karena penegakan hukumnya lemah, ditambah dengan aparat penegak hukumnya juga pelaku korupsi, maka pelaku korupsi tadi tidak merasa jera dengan perbuatannya dan bahkan semakin menjadi-jadi, akibatnya menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihindari apalagi untuk dihentikan.
9.Hilangnya Rasa Bersalah
Seorang koruptor tidak merasa bersalah atas perilakunya memakan uang negara, sebab dia merasa bahwa korupsi tidak sama dengan mencuri. Baginya korupsi berbeda dengan mencuri. Orang seperti ini sering berdalih, kalau yang dirugikan itu negara maka negara tidak bisa bersedih apalagi menangis, apalagi saya ini termasuk bahagian dari negara. Kalau yang dicuri uang rakyat, maka rakyat yang mana ? sebab saya sendiri juga adalah rakyat, hal itu berarti bahwa saya juga mencuri uang saya sendiri. Akibatnya para pelaku korupsi itu tidak pernah merasa bersalah atas perbuatannya, padahal kalaulah ia merasa bersalah atas perbuatannya maka besar kemungkinan ia akan mengembalikan uang yang dikorupsinya itu atau minimal dia tidak akan mengulangi lagi perbuatnnya di kemudian hari. Perasaan hilangnya rasa bersalah atau tidak punya rasa malu ini, harus ditumbuh kembangkan lagi, sehingga menjadi bahagian dari hidup ataupun menjadi budaya bangsa. Namun inilah yang sudah hilang dari diri bangsa ini.
10.Hilangnya Nilai Kejujuran
Nilai kejujuran adalah merupakan satu asset yang sangat berharga bagi seseorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sebab kejujuran akan mampu menjadi benteng bagi seseorang untuk menghindari perbuatan-perbuatan munkar seperti perbuatan korupsi ini. Hanya saja memang harus diakui bahwa nilai-nilai kejujuran telah hilang dari pelaku-pelaku korupsi itu. Oleh karena itulah maka sejak kecil dalam rumah tangga sudah harus ditanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak-anak sesuai dengan hadis Nabi, Katakanlah yang benar itu walau pahit sekalipun.
11.Sikap Tamak dan Serakah
Sikap tamak dan serakah adalah merupakan dua sikap yang sering menjerumuskan ummat manusia ke jurang kehinaan dan keghancuran sebab kedua sikap ini mengantar manusia kepada sikap tidak pernah merasa puas dan tidak pernah merasa cukup sekalipun harta yang telah dimilikinya sudah melimpah ruah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Quran :
Artinya : Bagi orang-orang yang memenuhi seruan TuhanNya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi, dan ditambah sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
12.Ingin Cepat Kaya, Tanpa Usaha dan Kerja Keras
Korupsi cepat tumbuh dan berkembang biak dengan pesat adalah disebabkan sikap manusia yang ingin cepat mendapatkan kekayaan, tanpa melalui usaha dan kerja keras, akibatnya korupsi menjadi pilihan utama untuk dilaksanakan, sebab pekerjaan korupsi tidak memerlukan kerja keras dan tidak memerlukan waktu lama. Dalam sekejap seseorang bisa cepat kaya dan mendapat harta yang berlimpah ruah, hanya dengan melakukan korupsi. Korupsi nampaknya menjadi jalan pintas untuk mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah, padahal dalam konsep agama Islam, untuk mendapatkan harta kekayaan haruslah melalui kerja keras dan halal.
13.Terjerat Sifat Materialistik, Kapitalistik dan Hedonistik
Materialistik, Kapitalistik dan hedonistik adalah tiga sifat yang siap siaga mengantarkan umat manusia untuk menghalalkan segala macam cara agar mendapatkan harta yang berlimpah. Harta yang berlimpah inipun tidak pernah merasa puasa dan cukup, selalu kehausan dan kekurangan setiap saat. Sudah punya mobil satu maka ingin punya mobil dua, sudah punya mobil dua maka iapun berhasrat untuk memiliki tiga dan seterusnya, akibatnya apapun dilakukan untuk mendapatkannya termasuk di dalamnya dengan melakukan korupsi yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat dan negara. Oleh karena itulah maka Nabi memperingatkan kepada yang haus akan harta melalui sabda beliau :
Artinya : Rasulullah SAW bersabda :Celakah hamba dinar dan hamba dirham, hamba permadani, dan hamba baju. Apabila ia diberi maka ia puas dan apabila ia tidak diberi maka iapun menggerutu kesal.
Sungguh mengerikan apabila kita termasuk golongan yang diatas. golongan yang mengagungkan dunia dan melupakan akherat. Tempat dimana hari pembalasan dilakukan. semoga mereka yang telah melakukannya cepat disadarkan dan melakukan taubat sebelum ajal menjemput dan mereka-mereka yang tidak melakukannya termasuk AntiKorupsi dan selalu diberi jalan yang lurus dan termasuk golongan aswaja.amin
Info & belajar Islam terkini www.islam-institute.com
Senin, 02 Desember 2013
Wisuda harus seneng apa sedih?
hai..hai..
apa kabarnya kalian semua? baik baik ya kan ya dong #logatnyasusiob
gw mau share aja sama kalian khususnya buat para mahasiswa yang mendekati gelar sarjana.
harusnya ini moment yang paling kita tunggu-tunggu yah buat ngelepas sama yang namanya bebab perkuliahan, tapi kenyataannya ada juga gitu yang ngerasa beban karena pas wisuda ga bawa pasangan?
bahkan ada yang lebih malu lagi kalo bawa orang tua? pun ada yang bilang "lo mau wisuda apa ngambil rapot"
hellllloooooooooo?
buat temen-temen nih yang suka ngeledekkin temennya yang gabawa pasangan, harusnya lebih intropeksi diri lagi, lo lebih seneng di dampingin orang tua lo atau pasangan lo ?
kalo lo lebih milih pasangan coba lo pikirin lagi makna dibalik wisuda itu ? ajang pamer pasangan-kah? supaya lo keliatan dewasa gitu ?
ngga sob, wisuda itu berarti lo telah menunjukkan dari hasil kerja keras lo selama ini dari lo masih taman kanak-kanak sampe duduk di bangku perkuliahan. itu semua tentu bantuan orang tua lo yang membiayai pendidikan lo sampe selesai. coba lo pikir sob,disaat lo memamerkan piagam dan gelar lo sebagai sarjana, lo bangga karena lo udah berhasil meninggalkan pendidikan akademis dan temen-temen lo banyak yang gagal.
kemudian selesai acara wisuda, orang tua lo minta bill/bayaran atas pendidikan lo selama ini, berapa juta yang harus lo bayar karena biaya yang dikeluarin orang tua lo, bisa ratusan juta atau mungkin lebih.
sedangkan pasangan lo emang ngebiayain ? emang ada hubungannya sama pendidikan lo selama ini ? mentok-mentok nyemangatin doang kan..
atau mungkin ada yang pacaran bertahun-tahun tapi karna ga diwisuda-wisuda akhirnya putus gara-gara gak lulus ? jleeebbb banget gak sih sob?!
tapi ga sjleebbb pas lo dimintain bayaran sob. kalo lo putus lo bisa cari yang lain. tapi kalo lo bayar uang pendidikan, lo butuh berapa lama buat ngelunasinnya?
Hayoloooooooohhhhh!!!
itu sih pendapat gw aja, selebihnya balik lagi ke masing-masing individunya
share balik ya sob thankyou.
apa kabarnya kalian semua? baik baik ya kan ya dong #logatnyasusiob
gw mau share aja sama kalian khususnya buat para mahasiswa yang mendekati gelar sarjana.
harusnya ini moment yang paling kita tunggu-tunggu yah buat ngelepas sama yang namanya bebab perkuliahan, tapi kenyataannya ada juga gitu yang ngerasa beban karena pas wisuda ga bawa pasangan?
bahkan ada yang lebih malu lagi kalo bawa orang tua? pun ada yang bilang "lo mau wisuda apa ngambil rapot"
hellllloooooooooo?
buat temen-temen nih yang suka ngeledekkin temennya yang gabawa pasangan, harusnya lebih intropeksi diri lagi, lo lebih seneng di dampingin orang tua lo atau pasangan lo ?
kalo lo lebih milih pasangan coba lo pikirin lagi makna dibalik wisuda itu ? ajang pamer pasangan-kah? supaya lo keliatan dewasa gitu ?
ngga sob, wisuda itu berarti lo telah menunjukkan dari hasil kerja keras lo selama ini dari lo masih taman kanak-kanak sampe duduk di bangku perkuliahan. itu semua tentu bantuan orang tua lo yang membiayai pendidikan lo sampe selesai. coba lo pikir sob,disaat lo memamerkan piagam dan gelar lo sebagai sarjana, lo bangga karena lo udah berhasil meninggalkan pendidikan akademis dan temen-temen lo banyak yang gagal.
kemudian selesai acara wisuda, orang tua lo minta bill/bayaran atas pendidikan lo selama ini, berapa juta yang harus lo bayar karena biaya yang dikeluarin orang tua lo, bisa ratusan juta atau mungkin lebih.
sedangkan pasangan lo emang ngebiayain ? emang ada hubungannya sama pendidikan lo selama ini ? mentok-mentok nyemangatin doang kan..
atau mungkin ada yang pacaran bertahun-tahun tapi karna ga diwisuda-wisuda akhirnya putus gara-gara gak lulus ? jleeebbb banget gak sih sob?!
tapi ga sjleebbb pas lo dimintain bayaran sob. kalo lo putus lo bisa cari yang lain. tapi kalo lo bayar uang pendidikan, lo butuh berapa lama buat ngelunasinnya?
Hayoloooooooohhhhh!!!
itu sih pendapat gw aja, selebihnya balik lagi ke masing-masing individunya
share balik ya sob thankyou.
Sabtu, 05 Mei 2012
facebook=buku diary?
hallo!
perkenalkan nama gw siti.ini postingan pertama gw loh di blog.cieciecieeeeee :D:D
Hem gw mau sedikit cerita nih tentang remaja-remaja di Indonesia yg kebanyakan 'mudah jatuh cinta,mudah juga putus cinta'.weleh weleh -_-"
sebenernya hal yg lumrah kalo manusia punya rasa cinta&kasih sayang sama lawan jenisnya.tapi apa perlu semua orang tau perasaan lo itu??perlu gitu orang ikutan mewek gara-gara lo diputusin atau pacar lo selingkuh??"Nggak kan?"
kalo boleh jujur gw pingin banget ngedelete atau ngeblokir salah satu temen gw ini.tapi sayangnya dia temen gw.temen jauh sih bukan temen deket juga.abis gitu loh statusnya, ga jauh-jauh dr yg namanya kenalan, pendekatan, jadian, putus, terus perang status deh!
semacam manusia yg hidupnya tidak mempunyai kesibukan.keliatan banget ini orang nyari temen&butuh perhatian kita sodara-sodara.apalagi kalo udah putus, serasa dia orang paling menderita.paling ga dihargain, paling dikecewain dan paling-paling bambu *eh 'baling' deng itu.
mungkin pembaca udah sering kali yah, nemuin temen-temen kita yg kayak gini.tapi baiknya jangan didiemin loh.harusnya dikasih uang atau makanan.soalnya kalo kata poconggg, itu orang macam 'fakir asmara'.manusia yg haus perhatian dan kasih sayang #asiikdaaaaaahh
tapi ga kebayang loh kalo ada orang yg perang status kaya gini :
contoh perang status yg benar.
si galau: senengnya udah ada yg bisa ngertiin aku drpd yg dulu :D#berhasil move on
mantan si galau:'akhirnya aku bebas dr si manja dan si over protektif#jogetjoget
contoh perang status yg salah:
si galau: senengnya udah ada jet tempur sama bom granit :D#lempar ke mantan
mantan si galau: akhirnya aku bebas dr ranjau dan bom dinamit#sujud syukur
"Bhahahahahahahahahhaha, ga kebayang ..
selain itu, ngumbar-ngumbar status ga jelas di jejaring sosial jg ada segi positifnya loh
buat orang yg suka 'kepo' jadi punya kerjaan buat tiap harinya online.dan dia gajadi gaptek.
coba deh pikir
"hm semacam pembodohan media juga sih" celetuk pembaca
Langganan:
Postingan (Atom)